Wednesday, February 10, 2021

MAKALAH PENGERTIAN DAN RUANG LINGKUP PSIKOLOGI PERKEMBANGAN

MAKALAH

“PENGERTIAN DAN RUANG LINGKUP PSIKOLOGI PERKEMBANGAN”

Untuk memenuhi tugas mata kuliah:

“PSIKOLOGI PERKEMBANGAN”


Dosen Pengampu : Dr. Heru Setiawan,. M.Pd.I

  




 

JURUSAN: PENDIDIKAN AGAMA ISLAM 

Disusun oleh: KELOMPOK I

1.  ANUAR SADAT. H

2.  MUHAMMAD FIKRI

3.  SAMSUL MU’ARIF

 

 

YAYASAN PENDIDIKAN DAN AMAL SOSIAL AN-NADWAH

SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM AN-NADWAH KUALA TUNGKAL

TAHUN AKADEMIK 2019

 

KATA PENGANTAR

Dengan menyebut nama Allah SWT yang Maha Pengasih lagi Maha Panyayang, Kami panjatkan puja dan puji syukur atas kehadirat-Nya, yang telah melimpahkan rahmat, hidayah, dan inayah-Nya kepada kami, sehingga kami dapat menyelesaikan makalah tentang “Pengertian dan Ruang Lingkup Psikologi Perkembangan” dalam mata kuliah “psikologi Perkembangan”.

Makalah ini telah kami susun dengan maksimal dan mendapatkan bantuan dari berbagai pihak sehingga dapat memperlancar pembuatan makalah ini. Untuk itu kami menyampaikan banyak terima kasih kepada semua pihak yang telah berkontribusi dalam pembuatan makalah ini. Terlepas dari semua itu, Kami menyadari sepenuhnya bahwa masih ada kekurangan baik dari segi susunan kalimat maupun tata bahasanya. Oleh karena itu dengan tangan terbuka kami menerima segala saran dan kritik dari pembaca agar kami dapat memperbaiki makalah ilmiah ini. Akhir kata kami berharap semoga makalah  ini dapat memberikan manfaat maupun inpirasi terhadap pembaca.

 

 

 

Kuala Tungkal,    Maret 2019

 

                                     

                                                                                                      Penyusun

 

 

DAFTAR ISI

 

Halaman Judul                                                                                                                                  i

Kata pengantar                                                                                                                                                ii

Daftar isi                                                                                                                                              iii

BAB I: PENDAHULUAN

A.      Latar Belakang                                                                                                          1

B.      Rumusan masalah                                                                                                   1

C.      Tujuan                                                                                                                          1

D.     Manfaat                                                                                                                       1

BAB II: PEMBAHASAN

A.      Pengertian dan hakikat psikologi perkembangan                                      2

B.      Prinsip-prinsip perkembangan                                                                           4

C.      Tujuan dan manfaat mempelajari psikologi perkembangan                  11

BAB III: PENUTUP                                                                 

A.      Kesimpulan                                                                                                                13

B.      Saran                                                                                                                            13

                                 

Daftar pustaka                   

 

 

 

 

 

 

 


BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Psikologi perkembangan adalah alah satu bidang psikologi yang memfokuskan kajian mengenai perubahan dan tingkah laku, dan proses perkembangan dari masa konsepsi (prenatal) sampai mati. Psikologi perkembangan lebih mempersoalkan tentang faktor-faktor umum yang mempengaruhi proses perkembangan yang terjadi dalam diri kepribadian itu sendiri. Setiap anak dalam kodratnya membawa variasi dan irama perkembangannya sendiri yang perlu diketahui setiap orang tua, agar tidak bertanya-tanya bahkan bingung atau bereaksi negatif dalam menghadapi perkembangan anaknya. Bahkan ia harus bersikap tenang sambil mengikuti terus menerus pertumbuhan anaknya, agar pertumbuhannya terhindar dari gangguan apapun yang merugikan, ia, orang tua, atau bahkan orang lain.

B. Rumusan Masalah

1.        Apa pengertian psikologi dan perkembangan?

2.       Bagaimana cara kita mengemplementasikan dalam kehidupan sehari?

3.       Apa yang dimaksud prinsip dan hakikat psikologi perkembangan?

C. Tujuan

1.        Untuk mendeskripsikan tentang psikologi perkembangan!

2.       Untuk mendiskipsikan psikologi dalam kehidupan sehai-hari!

3.       Untuk mendiskripsikan prinsip dan hakikat perkembangan!

D. Manfaat

Supaya kita tahu apa yang dibahas didalam psikologi perkembangan akan membantu setiap manusia dalam menghadapi tumbuh kembang anak-anaknya.

 

 

 


BAB II

PEMBAHASAN

A.   Pengertian Psikologi Perkembangan dan Hakikat Perkembangan

                                       Sebelum kita terlalu jauh untuk membahas psikologi perkembangan maka kita harus mengetahui apa itu psikologi. Kata psikologi berasal dari bahasa Inggris psychology, kata ini diadopsi dari bahasa Yunani yang berakar dari dua kata yaitu “pysech” yang berarti roh atau jiwa, dan “logos” berarti ilmu. Jadi secara harfiah psikologi dapat diartikan sebagai ilmu jiwa atau ilmu yang mempelajari tentang gejala-gejala kejiwaan.[1]

                       Sedangkan Perkembangan  adalah suatu proses yang pasti yang dialami oleh seorang individualisme yang bersifat kualitatif berhubungan dengan kematengan ditinjau dari sifat progresif serta sistematis. Perkembangan lebih mengacu pada perubahan dan karakteristik yang khas dari gejala-gejala psikologis kea rah yang lebih maju. Para ahli psikologi pada umumnya menunjuk pada pengertian perkembangan sebagai suatu proses yang lebih bersifat progresif yang menyebabkan tercapainya kemampuan dan psikis yang baru.

                       Perubahan seperti itu tidak terlepas dari perubahan yang terjadi pada struktur biologis, meskipun tidak semua perubahan kemampuan psikis di pengaruhi oleh struktur biologis. Perubahan kemampuan dan karakteristik psikis adalah sebagai hasil dari perubahan dan kesiapan struktur biologis yang sering dikenal dengan istilah  “Kematangan”.

                       Perkembangan berkaitan erat dengan pertumbuhan, berkat adanya pertumbuhan maka pada saatnya anak akan mencapai kematangan. Tugas-tugas perkembangan seorang individu yang sangat penting adalah mampu menerima keadaan dirinya memahami peran seks/jenis kelami, mengembangkan kemandirian, mengembangkan tanggung jawab pribadi dan social, menginternalisasikan nilai-nilai moral, dan merencanakan masa depan.

                       Pada masa ini kebanyakan seorang individu yang melakukan perbuatan antisosial maupun asusila karena tugas-tugas perkembangan tersebut kurang berkembang dengan baik dan signifikan. Adapun didalam psikologi yang membahas tentang permasalahan perkembangan itu ada yang namanya “Hukum Perkembangan”. Yang menjadi dasarnya ialah fisik maupun psikis seorang individu.

                       Sebagian ahli psikologi ada yang lebih senang menggunakan istilah “Prinsip-prinsip Perkembangan” dan tidak mau menggunakan istilah hukum perkembangan. Namun, di Indonesia yang lebih dikenal dengan istilah hukum perkembangan daripada prinsip perkembngan. Perbedaan istilah ini tidak memberikan pengaruh fundamental terhadap makna dasar yang dikandungnya. Oleh sebab itu, didalam buku ini disebutkan dengan istilah hukum perkembangan.[2]

                       Sedangkan “Hakikat Perkembangan” perkembangan dapat diartikan sebagai satu proses perubahan dalam diri individu atau organisme, baik fisik maupun psikis menuju tingkat kedewasaan dan kematangan yang berlangsung secara sistematis progresif dan berkesinambungan. Hakikat perkemabangan mengharuskan seorang individu untuk memfokuskan pada upaya meninggalkan sikap anarkisme dan perilaku lain sebagainya yang sekiranya merugikan orangn lain.

                       Hakikat perkembangan juga mengharuskan seorang individu memiliki tugas sesuai dengan binaan psikologi perkembangan, diantaranya sebagai berikut:

a)      Mampu membina hubungan baik dengan kelompok lain yang berlainan, agar tercipta masyarakat yang harmonis dan tercipta hidup toleran.

b)      Mengembangkan prilaku tanggung jawab social yang di perlukan untuk memasuki dunia yang lebih anarkisme.

c)      Mencapai kemandirian emosional.

d)      Mencapai kemandirian ekonomi.

e)      Mengembangkan konsep dan keterampilan intelektual yang sangat diperlukan untuk melakukan peran sebagai anggota masyarakat. [3]

B.  Prinsip-prinsip Perkembangan

                       Perinsip dapat diartikan sebagai suatu pernyataan fundamental atau kebenaran umum mamupun indvudual yang di jadikan oleh seseorang atau kelompok sebagai sebuah pedoman untuk berfikir ataupun bertindak sebagai seorang manusia yang berakal. Yang berkaitan dengan prinsip-prinsip perkembangan adalah sebagai berikut:

1)     Tahapan dalam prinsip perkembangan

-   Tingkat prakonvesional: aturan-aturan dan ungkapan-ungkapan moral masih ditafsirkan oleh individu/kelompok berdasarkan akibat fisik yang akan diterimanya, baik berupa sesuatu yang menyakitkan atau kenikmatan. Tingkat ini memiliki dua tahap, yaitu orientasi (perkenalan) hukuman dan kepatuhan serta orientasi relativis instrumental.

-   Tingkat konvesional atau konvesional awal: aturan-aturan dan ungkapan-ungkapan moral dipatuhi atas dasar menuruti harapan keluarga, kelompok, atau masyarkat. Tingkat ini memilik dua tahap, yaitu orientasi kesepakatan antara pribadi (diri sendiri), serta orientasi hukum dan ketertiban.

-   Tingkat pascakonvesional: aturan-aturan dan ungkapan-ungkapan moral dirumuskan secara jelas berdasarkan nilai-nilai dan prinsip moral yang memiliki kebebasan dan dapat diterapkan, terlepas dari otoritas kelompok atau orang yang berpegang pada prinsip tersebut dan terlepas pula dari identitas  diri dengan kelompok tersebut. Tingkat ini memiliki dua tahap, yaitu orientasi kontrak social legelitas dan orientasi prinsip etika universal.

Demikan uarain diatas menyebutkan tentang tahap-tahap dalam prisnsip-prinsip perkembangan dalam ilmu psikologi.[4]

 

                       Didalam prinsip perkembangan juga ada “perkembangan intelek” perkembangan intelek juga di kenal di dalam dunia psikologi maupun pendidikan dengan istilah perkembangan kognitif. Istilah intelek bersal dari bahasa inggris “intellect” yang menurut Chaplin diartikan sebagai, proses kognitif (berfikir), kemampuan mental atau intelegensi.

                       Adapun menurut Jean Piaget “intellect” diartikan sama dengan dengan kecerdasan, yaitu seluru kemampuan berfikir dan bertindak secara adaftif, termasuk kemampuan mental yang kompleks seperti berfikir, mempertimbangkan, menganalisis, mensintesis mengevaluasi, dan menyelesaikan persoalan-persoalan. Ia juga menambahkan bahwa intelegensi adalah seluruh kemungkinan koordinasi yang member struktur kepada tingkah laku suatu organism sebagai adaptasi mental terhadap situasi baru.[5]

Jean Piaget membagi tahapan intelek/kognitif kepada beberapa tahapan diantaranya yaitu:

1)   Tahap Sensori - Motoris

                       Tahap ini dialami pada usia 0-2 tahun. Pada tahap ini seorang anak berada dalam suatu tahp masa pertumbuhan yang ditandai oleh kecendrungan-kecendrungan sensori-motoris yang sangat jelas. Segala perbuatan merupakan perwujudan dari proses pematangan aspek sensori-motoris tersebut. Menurut Pageat, pada tahap ini interaksi anak dengan lingkungannya, termasuk orang tuanya, terutama dilakukan melalui perasaan dan otot-ototnya. Interaksi ini terutama diarahkan oleh sensasi-sensasi dari lingkungannya.

2)  Tahap Praoprasional

                       Tahap ini berlangsung pada usia 2-7 tahun. Tahap ini disebut juga tahapa intuisi sebab perkembangan kognitifnya memperlihatkan kecendrungan yang ditandai oleh suasana intuitif. Artinya, semua perbuatan rasionalnya tidak di dukung oleh pemikiran tetapi oleh unsure perasaan, kecendrungan alamiah, sikap-sikap yang diperoleh dari orang-orang dan lingkungan sekitarnya.

3)  Tahap Oprasional Konkret

                       Tahap ini  berlangusng pada usia 7-11 tahun. Pada tahap ini, anak mulai menyesuaikan diri dengan realitas konkret dan mulai sdudah berkembang rasa ingin tahunya. Pada tahap ini juga menurut Piaget, interaksinya dengan lingkungan, termasuk orang tuanya, sudah berkembang dengan baik karena egosentrisnya sudah semakni berkurang. Anak sudah dapat mengamati, menimbang, mengevaluasi, dan menjelaskan pikiran-pikiran orang lain dalam cara-cara yang kurang egosentris tapi lebih objektif. [6]

4)  Tahap Oprasional Formal

                       Tahap ini berlangsung pada usia 11 tahun ke atas. Pada masa ini, anak telah mampu mewujudkan suatu keseluruhan dalam pekerjaannya yang merupakan hasil dari berfikir secara logis. Aspek perasaan dan moralnya juga telah berkembang sehingga dapat mendukung penyelesain tugas-tugasnya. Pada tahap ini menurut Piaget, interaksinya dengan lingkungan sangat luas, menjangkau banyak teman sebayanya dan bahkan berusaha untuk berintraksi dengan orang dewasa . kondisi seperti ini juga tidak menimbulkan maslah interaksinya dengan orang tua. Namun, secara diam-diam ia juga mengharapkan perlindungan dari orang tuanya karena belum sepenuhnya mampu memnuhi kebutuhan dirinya sendriri.[7]

                       Demikianlah tahapan yang dikemukakan oleh Jean Piaget, didlam psikologi perkembangan khususnya, perkembangan intelek/kognitif. Yang mana semua itu sangat diperlukan di dalam dunia psikilogi supaya kita bisa melihat tumbuh kembang seorang anak dengan prilakunya.

                       Didalam ilmu psikologi juga ada yang namanya “Perkembangan Menyimpang”. Yang secara etimologi perkembangan menyimpang adalah, menurut kamus besar bahasa Indonesia yang di artikan tingkah laku, perbutan, atau tanggapan seorang terhadap lingkungan yang bertentangan dengan norma-norma dan hukum yang ada didalam masyarakat, semua tindakan manusia dibatasi oleh aturan (norma) untuk berbuat dan berperilaku sesuai dengan sesuatu yang dianggap baik oleh masyarakat.

Namun, ditengah kehidupan masyarakat kadang-kadang masih kita jumpai yang tidak sesuai dengan aturan (norma) yang berlaku pada masyarakat.[8]

                       Wujud dari perkembangan menyimpang  tidak begitu jelas dan tidak begitu luas, sebagai acuan bahwa prilaku dapat diktakan menyimpang, maka Gunarsa (1986) menggolongkan kedalam dua jenis yaitu penyimpangan tingkah laku yang bersifat moral yang tidak di atur dalam KUHP sehingga tidak dapat digolongkan pelanggaran hukum yang berat. Contohnya: berbohong, membolos saat pelajaran berlangsung, kabur atau pergi dari rumah dan lain sebagainya. Sedangakan yang kedua adalah penyimpang tingkah laku yang  bersifat melanggar hukum yang di atur didalam KUHP. Contohnya: berjudi, membunuh, memakai narkoba, memperkosa, mencuri dan lain sebagainya.[9]

                       Dampak perkembangan menyimpang bagi kehidupan msyarakat dan lingkungan sekitarnya di antaranya sebagai berikut:

1.        Dampak bagi pelaku

             Berbagai bentuk perkembangan menyimpang yang dilakukan oleh seorang individu dampak bagi si pelaku;

a)        Memberikan pengaruh psikologis atau penderitaan kejiwaan serta tekanan mental terhadap pelaku karena akan dikucilkan dari kehidupan masyarakat atau dijauhi dari pergaulan.

b)        Dapat menghancurkan masa depan pelaku menyimpang.

c)        Dapat menjauhkan pelaku dari tuhan yme, dan dekat dengan perbuatan dosa.

d)        Perbuatan yang dilakukan dapat mencelakai dirinya sendiri.

2.  Dampak bagi orang lain/kehidupan masyarakat

                   Prilaku menyimpang juga membawa dampak bagi orang lain atau masyarakat pada umumnya, bebrapa diantaranya meliputi hal-hal sebagai berikut:

a)        Dapat mengganggu keamanan, ketertiban, dan ketidak harmonisan dlam masyarakat.

b)        Merusak tatnan nilai, moral, dan berbagai paranata sosial yang berlaku di masyarakat.

c)        Menimbulakn beban sosial, psikologis, dan ekonomis bagi keluarga pelaku.

d)        Merusak unsur-unsur budaya dan unsure-unsur lain yang mengatur prilaku individu dalam kegidupan masyarakat.

                       Dampak yang ditimbulkan sebagai akibat prilaku penyimpangan sosial, baik terhadap pelaku maupun terhadap orang lain pada umumnya bersifat negatif. Demikian pula, menurut pandangan umum perkembangan menyimpang sangatlah merugikan masyarakat. Namun demikian, menurut Emile Durkhen, perkembangan menyimpang tidak serta merta selalau membawa dampak negatif. Menurutnya, perkembangan menyimpang juga memiliki kontribusi positif bagi kehidupan masyarakat.[10]

                       Adapun beberapa faktor yang mempengaruhi perkembangan, didalam dunia psikologi, khususnya yang membahas tentang psikologi perkembangan. Proses sosialisasi individu terjadi di tiga lingkungan utama, yaitu lingkungan keluarga, lingkungan sekolah, dan lingkungan masyarakat. Dalam lingkungan keluarga, anak mengembangkan pemikiran tersendiri yang merupakan pengukuhan dasar emosional dan optimisme sosial melalui frekuensi dan kualitas interaksi dengan orang tua dan saudara-saudaranya.

                       Proses sosialisasi turut mempengaruhi perkembangan sosial dan gaya hidupnya di hari-hari mendatang. Dalam proses perkembangan sosial juga, anak dengan sendirinya mempelajari proses penyesuain diri dengan lingkungannya, baik lingkungan keluarga, lingkungn sekolah, maupun lingkungan masyrakat. Perkembangan sosial individu sangat bergantung pada kemampuang seorang individu untuk menyesuaikan diri dengan lingkungannya serta keterampilan mengatasi masalah yang dihadapinya.

                       Berikut ini didiskusikan pengaruh lingkungan keluarga, sekolah, dan masyarakat terhadap perkembangan seorang anak. Diantaranya sebagai berikut:

1)  Lingkungan Keluarga

                       Ada sejumlah faktor didalam keluarga yang sngat dibutuhkan oleh seorang individu dalam perkembangan hidupnya, yaitu kebutuhan rasa aman, dihargai, disayangi, diterima. Rasa aman meliputi perasaan aman secara material dan mental. Perasaan aman secara material berarti pemenuhan kebutuhan pakain, makanan, dan sarana lain yang diperlukan. Sedangakan perasaan aman secara mental berarti pemenuhan oleh orang tua berupa perlindungan emosional, menjauhkan ketegangan, membantu dalam menyelesaikan masalah yang sedang ia hadapi dan memberiakan bantuan dalam menstabilkan emosinya. Manusia normal baik itu orang dewasa, remaja, dan anak-anak senantisa membutuhkan penghargaan atau dihargai oleh orang lain. Oleh karena itu, mempermalukan seorang individu didepan orang banyak merupakan pukulan jiwa yang sangat berat dan dapat berakibat buruk pagi perkembangann ya.

                       Keluarga menurut definisi “Jay Kasler” (1978) ia menagatakan bahwa keluarga itu mengandung (mencakup) tiga unsur yaitu:

-          Karakteristik khas internal keluarga yang berbeda dari keluarga lainnya.

-          Karakteristik khas itu dapat mempengaruhi prilaku individu dalam keluarga.

-          Unsur kepemimpinan dan keteladanan kepala keluarga, sikap, dan harapan individu dalam keluarga tersebut.

2)  Lingkungan Sekolah

                       Kehadiran disekolah merupakan perluasan lingkungan sosialnya dalam proses sosialisasinya dan sekaligus merupakan faktor lingkungan baru yang sangat menentang atau bahkan mencemskan dirinya. Para guru dan teman-teman sekelas membentuk suatu sistem yang kemudian menjadi semacam lingkungan norma bagi dirinya. Selama tidak ada pertentangan, selama itu pula anak tidak akan mengalamai kesulitan dalam menyesuikan dirinya. Namun, jika salah satu kelompok lebihnkuat dari dirinya, anak akan menyesuaikan dirinya dengan kelompok dimana dirinya dapat diterima dengan baik.

                       Ada empat tahap proses penyesuain diri yang harus dilalui oleh anak selama membangun hubungan sosialnya, yaitu sebagai berikut:

-          Anak dituntut agar tidak merugikan orang lain serta menghargai dan menghormati hak orang lain.

-          Anak dididik untuk menaati peraturan-peraturan dan menyesuaikan diri dengan norma-norma kelompok.

-          Anak dituntut untuk lebih dewasa didalam melakukan interaksi sosial berdasrkan asas saling member dan menerima.

-          Anak dituntut untuk memahami orang lain.

Keempat tahap proses penyesuain diri berlangsung dari proses yang sederhana ke proses yang semakin kompleks dan semakin menuntut penguasaan sistem respons yang kompleks pula. Selama proses penyesuin diri sangat mungkin terjadi kepada seorang anak yang ia bisa menghadapi konflik yang dapat berakibat terhambatnya proses perkembangannya khususnya dalam lingkup sosial.

Sebagaimana lingkungan keluarga, lingkungan sekolah juga dituntut menciptakan iklim kehidupan sekolah yang sangat kondusif bagi perkembangan sosialnya. Sekolah merupakan salah satu lingkungan tempat seorang anak hidup dalam kesehariannya. Sebagaimana keluarga, sekolah juga mempunyai potensi memudahkan atau menghambat perkembangan hubungan sosial. Diartikan sebagai fasilisator, iklim kehidupan lingkungan sekolah yang kurang positif dapat menciptakan hambatan bagi perkembangannya. Sebaliknya, sekolah yang iklim

kehidupannya bagus dapat memperlancar atau bahkan memacu perkembangan hubungan (sosisal) nya.

Kondusif tidaknya iklim kehidupan sekolah bagi perkembangan anak tersimpul dalam interaksinya antara guru dengan siswa, siswa dengan siswa, keteladanan prilaku guru, etos keahlian atau kualitas guru yang ditampilkan dalam melaksanakan tugas profesionalnya sehingga dapat menjadi model bagi anak didiknya.

 3)  Lingkungan Masyarakat

Salah satu masalah yang dialami seorang anak dalam proses perkembangan (sosial) nya adalah bahwa tidak jarang masyarakat bersikap tidak konsisten terhadap seorang anak. Di satu sisi anak sudah dianggap beranjak sudah dewasa, tapi kenyataannya disis lain mereka tidak di berikan kesempatan atau peran penuh sebagaimana orang yang sudah dewasa. Untuk masalah-masalah yang di anggap penting dan menentukan, anak masih saja dianggap seseorang yang belum mampu, sehingga menimbulkan rasa kecewa atau kejengkelan pada diri seorang anak.

Menurut pendapat Soetjipto Wirosardjono (1991) yqng mengatakan bahwa: “Bentuk-bentuk prilaku sosial merupakan hasil tiruan atau adaptasi dari pengaruh kenyataan sosial yang ada, kebudayaan kita menyimpan potensi meligitimasi anggota masyarakat untuk menampilkan prilaku sosial yang kurang baik dengan berbagai dalih, yang sah maupun yang tidak sah menurut undang-undang hukum yang ada di Indonesia”. Dengan demikian, iklim kehidupan masyarakat memberikan urutan penting bagi variasi perkembangan hubungan sosial. Apalagi seorang anak, senantiasa ingin selalu seiring sejalan dengan trend yang sedang berkembang ditengah-tengah masyarakat agar tetap selalu merasa dipandang trendy.[11]

C.  Tujuan dan Manfaat Mempelajari Psikolgi Perkembangan

Tujuan mempelajari ilmu psikologi perkembangan bagi kehidupan seorang individu dalam tumbuh kembangnya, dari anak-anak, remaja, sampai kepada dewasa. Adapun tujuannya yaitu sebagai berikut:

a)    Menurut M Lenner (1976), tujuan mempelajari psikologi perkembangan adalah supaya kita dapat mengetahui persamaan dan fungsi-fungsi psikologi sepanjang hidup, mempelajari bagaimana proses berfikir, interaksi, persamaan, dan perbedaan pada setiap diri seornag anak.

b)   Untuk mengetahui tingkah laku seorang anak apakah sesuai ataukah tidak dengan tingkat usia atau perkembangannya.

c)    Agar dapat memilih, dan memberikan materi serta metode yang sesuai dengan kebutuhan seorang anak, terutama dalam proses belajar.

d)   Mempelajari penyimpangan tingkah laku yang dialami seorang anak, seperti kenakalan, kelainan dalam fungsional inteleknya. Dan lain sebagainya.

Sedangkan manfaat mempelajari psikologi perkembangan bagi tumbuh kembang seorang anak adalah sebagai berikut:

a)    Memebantu apa yang diharapkan oleh seorang anak dan kapan yang ia harapkan itu muncul.

b)   Agar mengetahui perkembangan seorang anak, dari tingkah laku, interaksi, tanggap, dan sosialisasi terhadap lingkungan sekitar.

c)    Memungkinkan para orang tua dan guru memberikan bimbingan yang tepat kepada seorang anak.

d)   Membantu supaya mempermudah menyusun pedoman dalam bentuk sekala tinggi berat, usia, mental, ketahanan fisik, dan sekala perkembangan emosional ataupun sosial.

e)   Memperoleh pengetahuan tentang bagaimana memberikan respons yang tepat terhadap prilaku seorang anak.

f)     Dapat membantu kita untuk memahami diri sendiri.

g)   Dapat mengetahui apa yang diharapkan oleh orang tua ataupun masyarakat dari pengembangan potensi diri yang seorang anak miliki.[12]

  

 

BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan

                Psikologi perkembangan adalah suatu cabang dari ilmu psikologi yang membahas tentang prilak dan emosional makhluk hidup mulai dari lahir sampai mati.  Maka dari itu seorang individu memiliki respon yang berbeda-beda ketika diberi perlakuan yang sama, karena tingkat emosi mereka tidak sama, tolak ukur rasa bahagia dan sedih antara anak-anak dan orang dewasa pun juga berbeda.  Emosi manusia terus berkembang mulai dari bayi, anak-anak, remaja, sampai dewasa emosinya berkembang sesuai dengan usianya tanpa perlu adanya pembelajaran terlebih dahulu. Berbeda dengan kemampuan, kemampuan seseorang adapat diasah melalui proses yang disebut belajar, tidak demikian dengan emosional. Emosi seseorang dalam menafsirkan rasa bahagia, sedih, kecewa hanya bisa dilalui dengan proses alamiah sesuai dengan perkembangan usia mereka.

B. Saran

Dalam membuat Makalah ini mungkin masih terdapat kesalahan– kesalahan, sehingga kami mengaharapkan kritik dari pembaca agar makalah yang kami buat ini menjadi lebih baik dan lebih sempurna.

 


 


DAFTAR PUSTAKA

Agus Sujanto. Psikologi Umum. (Jakarta: Bumi Aksara. 2004).

Bimo Walgito. Pengantar Psikologi Umum. (Yogyakarta: Yayasan Penerbitan Fakultas   Psikologi,  UGM. 1981).

 

Jalaluddin Rakhmad. Psikologi Komonikasi. (Bandung: Remaja Karya. 1985).

 

Kartini Kartono. Psikologi Umum. (Bandung: Andar Maju. 1996).

 

Mohammad Ali, Mohammad Asrori. Psikologi Remaja (Perkembangan Peserta Didik). (Jakarta: PT. Bumi Aksara. 2004).

 

Patty F., dkk. Pengantar Psikologi Umum. (Surabaya: Usaha Nasional. 1982).

 

Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional. Kamus Besar Bahasa Indonesia. (Jakarta: Pusat Bahasa. 2008).

 

Soetjiningsih. Tumbuh Kembang Remaja dan Permasalahannya. ( Jakarta: CV. Sagung Seto. 2004).



[1] Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional. Kamus Besar Bahasa Indonesia. (Jakarta: Pusat                             

   sBahasa. 2008). Hlm. 163.

[2]  Patty F., dkk. Pengantar Psikologi Umum. (Surabaya: Usaha Nasional. 1982). Hlm. 43.

[3]Jalaluddin Rakhmad. Psikologi Komonikasi. (Bandung: Remaja Karya. 1985). Hlm. 11

[4] Mohammad Ali, Mohammad Asrori. Psikologi Remaja (Perkembangan Peserta Didik). (Jakarta:

   PT. Bumi Aksara. 2004). Hlm. 140.

[5] Ibid. hlm. 26-27.

[6] Bimo Walgito. Pengantar Psikologi Umum. (Yogyakarta: Yayasan Penerbitan Fakultas Psikologi, 

   UGM. 1981). Hlm 53.

[7] Ibid. hlm. 54.

[8] Agus Sujanto. Psikologi Umum. (Jakarta: Bumi Aksara. 2004). Hlm. 113.

[9] Soetjiningsih. Tumbuh Kembang Remaja dan Permasalahannya. ( Jakarta: CV. Sagung Seto.

   2004). Hlm. 59.

[10] Kartini Kartono. Psikologi Umum. (Bandung: Andar Maju. 1996). Hlm. 127.

[11] Mohammad Ali, Mohammad Asrori. Psikologi Remaja (Perkembangan Peserta Didik). (Jakarta:

    PT. Bumi Aksara. 2004). Hlm. 93-98.

No comments:

Post a Comment