Wednesday, February 10, 2021

RESUME USHUL FIQIH

 

“RESUME”

Untuk memenuhi tugas matakuliah:

“USHUL FIQIH II”

Dosen Pengampu: SAHRONI, S.Pd.I., M.Pd.I.


JURUSAN: PENDIDIKAN AGAMA ISLAM (PAI)

 

Disusun oleh:

SAMSUL MU’ARIF (19.11.2527)

Semester/Lokal: 2/E

 

 

YAYASAN PENDIDIKAN DAN AMAL SOSIAL AN-NADWAH

SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM AN-NADWAH KUALA TUNGKAL

TAHUN AKADEMIK 2019/2020

 

 

 

 

 

 

 

KAIDAH PERTAMA (I)

SEGALA SESUATU ITU TERGANTUNG NIATNYA”

 

Kaidah Al-Umuru bil Maqasidiha artinya adalah segala urusan tergantung pada tujuannya. Niat seseorang dalam sebuah amal perbuatan menjadi kriteria yang menjadikan nilai dan setatus hukum amal yang di lakukannya. Apakah nilai dari perbuatan itu sebagai amal syari’at atau

Perbuatan kebiasaan dan apakah status hukumnya jika ia sebagai amal syari’at. Dalam kaidah ini ulama’menetapkan, bahwa niat merupakan rukun (bagian yang tidak terpisahkan) dan tanpa adanya niat suatu perbuatan tidak sah. Kaidah ini bersumber dari hadis Nabi SAW:

إِنَّمَا الْاَعْمَالُ بِا لنِّيَاتِ

“segala perbuatan itu hanyalah dengan niat”

            Menurut ulama’ ahli tahqiq, hadis ini sangat padat sehingga seolah-olah sepertiga atau seperempat dari seluruh masalah fiqih telah tercakup di dalamnya. Karena sebab perbuatan atau amal manusia itu ada tiga macam, yaitu:

1.      Dengan hati.

2.      Dengan ucapan.

3.      Dengan tindakan.

Maksud kata umuur. Kaidah pertama ini al-umuru bi maqashidiha terbentuk dari dua unsur yakni lafadz al-umuru dan al- maqashid. Secara etimologi lafadz al-umuru merupakan bentuk dari lafadz al-amru yang berarti keadaan, kebutuhan, peristiwa dan perbuatan. jadi, dalam bab ini lafadz al-umuru bi maqashidiha diartikan sebagai perbuatan dari salah satu anggota. Sedangkan menurut terminologi berarti perbutan dan tindakan mukallaf baik ucapan atau tingkah laku, yang dikenai hokum syara’ sesuai dengan maksud dari pekerjaan yang dilakukan.

Sedangkan maqashid secara bahasa adalah jamak dari maqshad, dan maqsad mashdar mimi dari fi’il qashada, dapat dikatakan: qashada-yaqshidu-qashdan-wamaksadan, al qashdu dan al maqshadu artinya sama, beberapa arti alqashdu adalah ali’timad berpegang teguh, al amma, condong, mendatangi sesuatu dan menuju.

Kaidah Al-Umuru bil Maqasidiha artinya adalah segala urusan tergantung pada tujuannya. Niat seseorang dalam sebuah amal perbuatan menjadi kriteria yang menjadikan nilai dan setatus hukum amal yang di lakukannya. Apakah nilai dari perbuatan itu sebagai amal syari’at atau

Perbuatan kebiasaan dan apakah status hukumnya jika ia sebagai amal syari’at. Dalam kaidah ini ulama’menetapkan, bahwa niat merupakan rukun (bagian yang tidak terpisahkan) dan tanpa adanya niat suatu perbuatan tidak sah

Dasar yang melandasi kaidah ‘al-umur bi al-maqashid yaitu Al-Quran dan Al-Hadits. Dalam Al-Quran diterangkan dalam Q.S Al-Bayyinah ayat 5, Q.S Hud ayat 31, dan Q.S Al-Baqarah ayat 225 dan 265. Sedangkan dalam Al-Hadits yang telah diriwayatkan Nabi Muhammad Saw. yaitu yang artinya ”Keabsahan amal-amal tergantung pada niat”. Dan telah dijelaskan juga Imam Syihab dalam kitabnya “Musnad al-Syihab” dari Anas menggunakan redaksi yang artinya “Niat orang mukmin lebih baik daripada amal perbuatannya” 

Maksud kata umuur. Kaidah pertama ini al-umuru bi maqashidiha terbentuk dari dua unsur yakni lafadz al-umuru dan al- maqashid. Secara etimologi lafadz al-umuru merupakan bentuk dari lafadz al-amru yang berarti keadaan, kebutuhan, peristiwa dan perbuatan.

 

KAIDAH KEDUA (II)

“YAKIN ITU TIDAK DAPAT DIHILANGKAN DENGAN KEBIMBANGAN”

 

Yakin adalah sesuatu yang menjadi mantap karena pandangan atau dengan adanya dalil.

 

اليقين هو ما كان ثابتا بالنظر او الدليل

Dari penjelasan di atas maka dapat dipahami bahwa seorang dapat dikatakan telah meyakini terhadap satu perkara, manakala terhadap perkara itu telah ada bukti atau keterangan yang ditetapkan oleh pancar indera atau pikiran.

Sedangkan Syak adalah sesuatu yang berada antara ketetapan dan ketidak tetapan Dimana pertentangan tersebut berada dalam posisi yang sama antara batas kebenaran dan kesalahan, tanpa dapat dikuatkan salah satunya .

 

ﺍﻟﺸﻚ ﻫﻮ ﻣﺎ ﻛﺎﻥ ﻣﺘﺮﺩّﺍ ﺑﻴﻦ ﺛﺒﻮﺕ ﻭﻋﺪﻣﻪ ﻣﻊ ﺗﺴﺎﻭﻯ ﻃﺮﻓﻰ ﺍﻟﺼﻮﺍﺏ ﻭﺍﻟﺨﻄﺎﺀ ﺩﻭﻥ ﺗﺮﺟﻴﺢ ﺃﺣﺪﻫﻤﺎ ﻋﻠﻰ ﺍﻵﺧﺮ

Keyakinan dan keraguan merupakan dua hal yang berbeda, bahkan dapat dikatakan saling berlawanan. Hanya saja, besarnya keyakinan dan keraguan akan bervariasi tergantung lemah dan kuatnya tarikan yang satu dengan yang lain. Dan kaidah yang berkaitan dengan hal ini adalah:

ﺍﻟﻴﻘﻴﻦ ﻻﻳﺰﺍﻝ ﺑﺎﻟﺸّﻚّ

“Keyakinan tidak dapat dihilangkan dengan kebimbangan ”

 

Sumber kaidah tentang keyakinan dan keraguan ini berdasarkan beberapa hadits. Antara lain hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Abu Hurairah yang menyatakan bahwa Nabi Muhammad SAW bersabda:

 

ﻗﺎﻝ ﺭﺳﻮﻝ ﺍﻟﻠﻪ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ : ﺇﺫﺍ ﻭﺟﺪ ﺃﺣﺪﻛﻢ ﻓﻲ ﺑﻄﻨﻪ ﺷﻴﺌﺎ ﻓﺄﺷﻜﻞ ﻋﻠﻴﻪ ﺃﺧﺮﺝ ﻣﻨﻪ ﺷﻴﺊ ﺃﻡ ﻻ ﻓﻼﻳﺨﺮﺟﻦّ ﻣﻦ ﺍﻟﻤﺴﺠﺪ ﺣﺘﻰ ﻳﺴﻤﻊ ﺻﻮﺗﺎ ﺃﻭ ﻳﺠﺪ ﺭﻳﺤﺎ .

“Manakala seseorang di antaramu menemukan sesuatu dalam perutnya, lalu ia ragu, adakah sesuatu yang keluar darinya atau tidak, maka janganlah ia keluar dari masjid sampai ia mendengar suara atau menemukan bau”.

Dan sabda Rasulullah :

 

ﺇﺫﺍ ﺷﻚّ ﺃﺣﺪﻛﻢ ﻓﻲ ﺻﻼﺗﻪ ﻓﻠﻢ ﻳﺪﺭﻛﻢ ﺻﻠّﻰ ﺃﺛﻼﺛﺎ ﺃﻡ ﺃﺭﺑﻌﺔ ﻓﻠﻴﻄﺮﺡ ﺍﻟﺸّﻚّ ﻭﺍﻟﻴﺒﻦ ﻋﻠﻰ ﻣﺎ ﺍﺳﺘﻴﻘﻦ

Artinya: “Apabila salah seorang di antara kamu meragukan shalatnya, lalu ia tidak mengetahui berapa raka’at yang telah ia kerjakan, tiga atau empat, maka hendaklah dilempar yang meragukan itu dan dibinalah menurut apa yang diyakinkan. ” (HR. Muslim)

Menurut dalil akal ( aqli ) bagi kaidah keyakinan dan keraguan adalah bahwa keyakinan lebih kuat daripada keraguan, karena dalam keyakinan terdapat hukum Qath’i yang meyakinkan. Atas dasar pertimbangan itulah dapat dikatakan bahwa keyakinan tidak dapat dihilankan dengan keraguan.

Salah satu contoh dari kaidah kedua ini:

ﺍﻷﺻﻞ ﻓﻲ ﺍﻟﻜﻼﻡ ﺍﻟﺤﻘﻴﻘﺔ

“Ucapan itu asalnya adalah haqiqah.”

Jadi kalau ada ucapan yang bisa diartikan haqiqah dan dapat pula

      diartikan majas/kiasan, maka ucapan itu harus diartikan secara haqiqah.

Seseorang bersumpah : “Demi Allah, saya tidak akan membeli baju.” Lalu ia menyuruh orang lain untuk membelikan baginya, maka menurut kaidah ini, orang tersebut dianggap tidak melanggar sumpah.

 

KAIDAH KETIGA (III)

“KEBERATAN ITU BIASA MEMBAWA KEPADA MEMPERMUDAH”

 

Al-Masyaqqah menurut arti bahasa (etimologi) adalah al-ta’ab yaitu kelelahan, kepayahan, kesulitan, dan kesukaran. Sedangkan al-Taysir secara etimologi berarti kemudahan. Jadi, AL-MASYAQQATU TAJLIBU ATTAISIR adalah kesulitan menyebabkan adanya kemudahan. Maksudnya adalah hukum-hukum syari’ah didasarkan atas kenyamanan, keringanan dan menghilangkan kesulitan.

 Dalam penerapan qā’idah “al-masyaqqah tajlib al-Taisīr” pada Fiqh, memiliki beberapa ketentuan, yaitu “al-masyaqqah”/kesukaran tersebut harus kesukaran yang dapat terpisah dari beban syari’at dan bukan kesukaran yang tidak bisa terpisahkan dari taklif syar’iyyah.

 

 

Sedangkan menurut Prof. H. A. Djazuli dalam bukunya Kaidah-kaidah Fikih, terdapat tiga karakter masyaqqah

1. Al-Masyaqqah al-‘Azimmah (kesulitan yang sangat berat), seperti kekhawatiran akan hilangnya jiwa dan/atau rusaknya anggota badan.

 2. Al-Masyaqqah al-Mutawasithah (kesulitan yang pertengahan, tidak sangat berat juga tidak sangat ringan).

3. Al-Masyaqqah al-Khafifah (kesulitan yang ringan).

Penerapan Qā’idah Pada Fiqh Dalam penerapan qā’idah “al-masyaqqah tajlib al-Taisīr” pada Fiqh, memiliki beberapa ketentuan, yaitu “al-masyaqqah” kesukaran yang dapat mendatangkan kemudahan (al-Taisīr) para ulama juga telah menyebutkan sebab-sebab yang menimbulkan (akibat diperbolehkan) kemudahan (rukhsah) tersebut, yaitu:

 1. Bepergian , (Misalnya, boleh qasar shalat, buka puasa, dan meninggalkan shalat jumat bagi orang yang sedang dalam perjalanan.

2. Keadaan sakit ,(Misalnya, boleh bertayamum ketika sulit memakai air, shalat fardhu sambil duduk, berbuka puasa bulan Ramadhan dengan kewajiban qadha setelah sehat. Ditundanya pelaksanaan had sampai terpidana sembuh, wanita yang sedang mentruasi.

3. Keadaan terpaksa ,(Seperti di ancam orang lain untuk membatalkan puasa ramadhan, sehingga membahayakan jiwanya, dan dipaksa minum khamar jika tidak makai akan dibunuh.

4. Lupa, (Seperti seseorang lupa makan dan minum pada waktu puasa)

5. Ketidaktahuan ,(Misalnya, orang yang baru masuk Islam karena tidak tahu, kemudian berdagang dengan praktik riba maka dimaafkan karena belum mengetahui haram.

 6. Kekurang mampuan bertindak hukum, (Misalnya, orang gila dan anak kecil tidak wajib melaksanakan sholat, puasa, bayar zakat dan naik haji. Begitu juga perempuan pada saat berhaid tidak diwajibkan shalat 5 waktu, karena pada diri mereka terdapat kekeurangan sehingga tidak mencukupi syarat untuk melakukan ibadah-ibadah tertentu.

 7. Kesulitan yang umum,  seperti percikan air yang bercampur dengan najis pada waktu musim hujan ketika mengenai pakaian, maka dihukumi sebagai najis dima’af.

Adapun keringanan atau kemudahan karena adanya masyaqqah setidaknya ada tujuh macam, yaitu:

1. Menghilangkan kewajiban (isqath), seperti meninggalkan salat jum’at, haji, umrah, dan jihad ketika ada udzur.

2. Mengurangi beban (tanqish), umpamanya qashar shalat.

3. Penggantian (ibdal), seperti mengganti wudhu dan mandi dengan tayamum.

4. Mendahulukan (taqdim), seperti mendahulukan zakat harta sebelum genap satu tahun, dan mendahulukan pembayaran zakat fitrah di bulan ramadhan.

5. Menangguhkan hingga waktu tertentu (ta’khir), seperti kebolehan mengganti puasa ramadhan pada hari lain bagi ynag sakit dan dalam perjalanan.

7. Perubahan (taghyir), seperti mengubah susunan shalat dalam keadaan perang (shalat khawf).  

 

KAIDAH KEEMPAT (IV)

“MODHARAT ITU DAPAT DIHAPUS”

 

Pengertian kaidah “Adh-Dhararu Yuzalu” Arti dari kaidah “ad-Dhararu yuzalu” adalah kemudharatan/kesulitan harus dihilangkan. Jadi konsepsi kaidah ini memberikan pengertian bahwa manusia harus dijauhkan dari idhrar (tindak menyakiti), baik oleh dirinya maupun orang lain, dan tidak semestinya ia menimbulkan bahaya (menyakiti) pada orang lain. Namun Dharar (Dharar) secara etimologi adalah berasal dari kalimat "adh Dharar" yang berarti sesuatu yang turun tanpa ada yang dapat menahannya. Sedangkan Dharar secara terminologi menurut para ulama ada beberapa pengertian diantaranya adalah:

1.      Dharar ialah posisi seseorang pada suatu batas dimana kalau tidak mau melanggar sesuatu yang dilarang maka bisa mati atau nyaris mati. Nah hal seperti ini memperbolehkan ia melanggarkan sesuatu yang diharamkan dengan batas batas tertentu.

2.      Abu Bakar Al Jashas, mengatakan “Makna Dharar disini adalah ketakutan seseorang pada bahaya yang mengancam nyawanya atau sebagian anggota badannya karena ia tidak makan”

3.      Menurut Ad Dardiri, “Dharar ialah menjaga diri dari kematian atau dari kesusahan yang teramat sangat”

4.      Menurut sebagian ulama dari Madzhab Maliki, “Dharar ialah mengkhawatirkan diri dari kematian berdasarkan keyakinan atau hanya sekedar dugaan”

5.      Menurut Asy Suyuti, “Dharar adalah posisi seseorang pada sebuah batas dimana kalau ia tidak mengkonsumsi sesuatu yang dilarang maka ia akan binasa atau nyaris binasa.

   Dasar-Dasar pengambilan kaidah “Ad-Dhararu Yuzalu” Kaidah ini menunjukkan bahwa kemadharatan itu telah terjadi atau akan terjadi, dengan demikian setiap kemadharatan memang harus dihilangkan. Dasar dari kaidah ini adalah firman Allah dalam surat al-A’raf ayat 7:

وَلَا تُفۡسِدُواْ فِي ٱلۡأَرۡضِ بَعۡدَ إِصۡلَٰحِهَا وَٱدۡعُوهُ خَوۡفٗا وَطَمَعًاۚ إِنَّ رَحۡمَتَ ٱللَّهِ قَرِيبٞ مِّنَ ٱلۡمُحۡسِنِينَ  ٥٦

Artinya: Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, sesudah (Allah) memperbaikinya dan berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut (tidak akan diterima) dan harapan (akan dikabulkan). Sesungguhnya rahmat Allah amat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik.

Dan dalam surah Al-Qashash ayat ke-77

وَٱبۡتَغِ فِيمَآ ءَاتَىٰكَ ٱللَّهُ ٱلدَّارَ ٱلۡأٓخِرَةَۖ وَلَا تَنسَ نَصِيبَكَ مِنَ ٱلدُّنۡيَاۖ وَأَحۡسِن كَمَآ أَحۡسَنَ ٱللَّهُ إِلَيۡكَۖ وَلَا تَبۡغِ ٱلۡفَسَادَ فِي ٱلۡأَرۡضِۖ إِنَّ ٱللَّهَ لَا يُحِبُّ ٱلۡمُفۡسِدِينَ  ٧٧

4

 

Artinya: Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik, kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.

Penerapan Kaidah Ad-Dhararu Yujalu memiliki area yang luas, hampir pada sebagian besar masalah-masalah fikih.

1. Al-Khiyar.            3. Syuf’ah.

2. Al-Hijr.                 4. Qishas.

 

KAIDAH KELIMA (V)

“ADAT KEBIASAAN ITU DAPAT DIJADIKANN HUKUM”

Secara bahasa, al-'adah diambil dari kata al-'awud atau al-mu'awadah yang artinya berulang. Oleh karena itu, tiap-tiap sesuatu yang sudah terbiasa dilakukan tanpa diusahakan dikatakan sebagaiadat. Dalam pengertian dan subtansi yang sama, terdapat istilah lain dari al-'adah, yaitu al-'urf,yang secara bahasa berarti suatu keadaan, ucapan, perbuatan, atau ketentuan yang dikenal manusia dan telah menjadi tradisi untuk melaksanakannya atau meninggalkannya.

Kaidah Al-‘Adah Al-Muhakkamah,  Adah (adat)itu bisa dijadikan patokan hukum Yang dimaksud dengan kaidah ini bahwa disuatu keadaan,adat bisa dijadikan pijakan untuk mencetuskan hukum ketika tidak ada dalil dari syari’. Namun,tidak semua adat bisa dijadikan pijakan hukum.

 Dan pada dasarnya atau asal mula kaidah iniada,diambil dari realita sosial kemasyarakatan bahwa semua cara hidup dan kehidupan itu dibentuk oleh nilai-nilai yang diyakini sebagai norma yang sudah berjalan sejak lama sehingga mereka memilikipola hidup dan kehidupan sendirisecara khusus berdasarkan nilai-nilaiyang sudah dihayatibersama.

Namun bukan berarti setiap adat kebiasaan dapat diterima begitu saja, karena suatu adat bisa diterima jika memenuhi syarat-syarat sebagai berikut:

 1. Tidak bertentangan dengan syari'at.

 2. Tidak menyebabkan kemafsadatan dan tidak menghilangkan kemashlahatan.

 3. Telah berlaku pada umumnya orang muslim.

 4. Tidak berlaku dalam ibadah mahdah

 5 .Urf tersebut sudah memasyarakat ketika akan ditetapkan hukumnya.

Perbedaan istilah ‘adah dan ‘urf itu jika dilihat dari aspek yang berbeda, yaitu:

1. ‘urf hanya menekan an pada adanya aspek pengulangan pekerjaan, dan harus dilakukan oleh sekelompok,sedang obyeknya lebih menekankan pada posisi pelakunya.

 2. ‘adah hanya melihat dari sisi pelakunya, dan bolehdilakukan pribadi atau kelompok, sertaobyeknya hanya melihat pada pekerjaan

Dasar hukum didalam Al-Qur’an yaitu: وَأْمُرْبِالْعُرْفِوَأَعْرِضْعَنِالْجَاهِلِينَ   “Dan suruhlah orang-orang mengerjakan yang makruf serta berpalinglah dari orang-orang bodoh”.(QS.Al-A’raf:199).

 

KAIDAH KEENAM (VI)

“JIKA HALAL DAN HARAM BERKUMPUL, MAKA YANG DIPRIORITASKAN ADALAH YANG HARAM”

 

 Secara umum, kaidah ini mencakup tiga instrumen penting yang saling berkaitan antara satu dengan yang lain. Ketiga instrumen tersebut adalah hukum halal, haram, dan ijtima’ atau percampuran keduanya. Berikut kejelasannya:

1.         Halal yang dimaksud disini adalah halal yang mubah, bukan halal yang wajib. Karena sesuai konsensus ulama’, jika antara perkara halal yang wajib dan haram berkumpul, maka mashlahah berupa kewajiban lah yang harus dijaga. Sementara dalam kaidah ini yang dimenangkan justru keharamannya, bukan kehalalannya.

2.        Haram dalam kaidah ini sama dengan pengertian haram yang dimaksud dalam ilmu fiqh secara umum. Artinya, segala sesuatu apabila dikerjakan mendapat siksa, dan jika ditinggalkan mendapat pahala.

3.        Ijtima’. Mengenai batasan ijtima’ atau percampuran unsur halal dan unsur haram, menurut Syaikh Yasir al-Fadani, tidak ada ketentuan baku atau batasan yang pasti mengenai halal itu. Oleh karenanya, ijtima’ antara halal dan haram yang diperhitungkan disini adalah ijtima’ dalam asumsi pelaku (dhan al-mukallaf), bukan pada kenyataan di lapangan atau fakta praksis (nafs al-amr). Dengan demikian, halal dan haram sudah bisa dinilai berkumpul (ijtima’), bila pelaku sudah mempunyai asumsi kuat (dhan) ke arah itu, walaupun dalam kenyataannya tidak demikian.

            Adapun dasar pijakan dari teori ini adalah sabda Nabi saw. sebagai berikut:

ﻣﺎ اﺟﺘﻤﻊ اﻟﺤﻼل واﻟﺤﺮام إﻻّ ﻏﻠﺐ اﻟﺤﺮام اﻟﺤﻼل

“Tidaklah berkumpul halal dengan haram, kecuali haram itu mengalahkan yang halal.”

     Hadits ini menegaskan bahwa pada saat halal dan haram berkumpul, maka yang lebih dominan adalah haram. Maka dari itu, hukum haram harus lebih diutamakan daripada yang halal, sebagaimana yang telah disepakati jumhur ulama’.

Dalam menanggapi kasus-kasus yang bisa dimasukkan kedalam cakupan pembahasan teori ini, ditemukan juga kasus-kasus yang dikecualikan darinya, diantaranya adalah kasus seperti contoh di bawah ini:

               Seperti Kasus kebolehan berijtihad dalam memilih gadis idamannya yang ada di suatu kampung untuk dinikahi, padahal di antara wanita kampung terdapat saudari wanitanya (mahram) yang sudah tidak diketahui identitasnya.

Untuk menangani kasus ini, ia boleh memilih salah satu dari mereka untuk dinikahi, jika jumlah wanita yang ada di kampung tersebut masuk dalam kategori “tidak terhitung” (ghoiru mahshur). Namun jika jumlah wanita yang ada di kampung tersebut masuk dalam kategori “terhitung” (mahshur), maka ia tidak bolek menikahi salah satu wanita yang ada di kampung tersebut.

Adapun cara untuk mengetahui jumlah yang bisa dihitung (mahshur) dan yang tak bisa dihitung (ghoiru mahshur) itu, menurut Al-Ghazali tidak terlalu rumit, yaitu dengan menggunakan panca-indera penglihatan (mata) yang secara telanjang sudah bisa dijadikan untuk menilai jumlahnya.

Dengan demikian, maka yang dimaksud dengan mahshur dan ghoiru mahshur adalah sebagai berikut:

1.    Mahshur (ﻣﺤﺼﻮر) adalah jumlah (perempuan) yang secara sepintas mudah dihitung, misalnya 20 atau 40.

2.    Ghoiru Mahshur (ﻣﺤﺼﻮر ﻏﯿﺮ) adalah jumlah (perempuan) yang secara sepintas sulit dihitung, misalnya 1000.27.

 

KAIDAH KETUJUH (VII)

“MEMPERSILAHKAN ORANG LAIN DAN MENGABAIKAN DIRI SENDIRI DALAM HAL ITU MAKRUH”

 

               Itsar secara bahasa bermakna melebihkan orang lain atas dirinya sendiri. Sedangkan menurut istilah itsar Adalah sikap mendahulukan kepentingan orang lain daripada dirinya sendiri. Sifat ini termasuk akhlak mulia yang sudah mulai hilang di masa kita sekarang ini, Padahal akhlak mulia ini adalah puncak tertinggi dari ukhuwah islamiyah dan merupakan hal yang sangat dicintai oleh Allah Ta‟ala dan juga dicintai oleh setiap makhluk. Macam-Macam Itsar yaitu:

 1. Itsar dalam perkara Duniawi Misalnya: Ketika kita meminjamkan motor kepada orang lain yang harus segera dibawa kerumah sakit namun ketika itu kita juga membutuhkan. Nah inilah contoh itsar dalam kehidupan sehari-hari dan tentunya masih banyak lagi.

2. Itsar dalam perkara Ibadah Mendahulukan orang dalam hal ibadah adalah sesuatu yang dibenci atau makruh, karena masing-masing orang diperintahkan untuk mengagungkan Allah SWT. Jadi kita tidak boleh mendahulukan orang lain atas diri kita dalam perkara ibadah.

               Al-Imam Al-Ghazali membagi itsar kedalam tiga tingkatan:

 1. Tingkatan pertama: menempatkan orang lain seperti seorang pembantu. Yaitu kita berikan apa-apa yang tersisa dari kita.Seperti halnya makanan sisa, pakaian bekas, menempatkan tamu di dalam gudang yang tidak ditempati dan lain sebagainya.

 2. Tingkatan kedua : menempatkan orang lain seperti dirinya sendiri yaitu dengan memberikan kepadanya seperti yang ia berikan kepada dirinya.Seperti memberi makanan yang biasa ia makan atau yang ia senangi.

 3. Tingkatan ketiga : menempatkan orang lain diatas dirinya. Yaitu dengan memberikan kepada orang lain lebih dari apa yang biasa ia berikan kepada diri sendiri.Dia tidak merasa iri ketika orang lain itu menjadi punya kelebihan dari dirinya setelah mendapatkan pemberianya.

               Sungguh, seseorang yang mempunyai al-itsar, akan mendapatkan keutamaan-keutamaan yang sangat banyak, diantara keutamaan-keutaman al-itsar adalah:

 1. Akan dicintai oleh Allah Ta‟ala

 2. Akan dicintai oleh manusia.

 3. Akan dimudahkan urusannya di dunia dan dilepaskan dari kesusahan di      akhirat

 4. Akan tumbuh ikatan ukhuwah yang erat dan kuat antar sesama muslim.

 

 

 

 

 

KAIDAH KEDELAPAN (VIII)

“AMAL MUTA’ADDI LEBIH UTAMA DARIPADA AMAL QASHIR”

 

Kaidah Al-Muta’addi Afdhalu minal Qashiri artinya adalah amal muta’addi (merembet) lebih utama daripada amal qashir (tidak merembet). Amal muta’addi (amal yang merembet) adalah amalan yang manfaatnya untuk orang lain, baik manfaat ukhrawi (seperti mengajarkan ilmu dan dakwah ilallah), bisa juga manfaat duniawi (seperti menunaikan hajat orang lain dan menolong orang yang dizhalimi). Sedangkan Amal qashir (amal yang pendek atau tidak merembet adalah amalan yang manfaatnya hanya untuk pelakunya saja, seperti puasa dan iktikaf.

Pada hakikatnya, segala amal yamg dilakukan tersebut sudah tercatat rapi sesuai rencana Allah SWT. sebagaimana firman Allah dalam Surah Yaasiin ayat 12:

إِنَّا نَحْنُ نُحْىِ ٱلْمَوْتَىٰ وَنَكْتُبُ مَا قَدَّمُوا وَءَاثَٰرَهُمْ وَكُلَّ شَىْءٍ أَحْصَيْنَٰهُ فِىٓ إِمَامٍ مُّبِينٍ

Artnyai: “Sesungguhnya Kami menghidupkan orang-orang mati dan Kami menuliskan apa yang telah mereka kerjakan dan bekas-bekas yang mereka tinggalkan. Dan segala sesuatu Kami kumpulkan dalam Kitab Induk yang nyata (Lauh Mahfuzh)”.

Contoh penerapan kaidah, salah satunya adalah contoh masalahnya: “Apabila azan berkumandang, paling afdal adalah sibuk menjawab azan daripada melakukan rutinitas ibadah lainnya”.

Contoh penerapannya: “Ketika kita mempunyai uang banyak untuk melaksanakan ibadah haji, tapi di sekeliling kita bnyak orang faqir dan miskin, maka uang yang kita miliki untuk melaksanakan ibadah haji tadi lebih baik diberikan kepada faqir miskin daripada untuk naik haji ke tanah suci”.

Masalah yang dikecualikan dari kaidah ini antara lain: Kita berjama’ah di sebuah, masjid yang andaikata kita pindah berjama’ah ke mesjid lain akan menyebabkan masjid yang kita tinggalkan tersebut menjadi sepi. Maka tetap berjama’ah di masjid yang semula adalah lebih utama daripada berjama’ah di masjid yang lain, meskipun di masjid lain itu anggota jama’ahnya lebih banyak.

 

 

KAIDAH KESEMBILAN (IX)

“WAJIB ITU TIDAK DAPAT DITINGGALKAN KECUALI KARENA WAJIB, APA YANG HARAM DIGUNAKAN HARAM PULA DISIMPAN”

 

Wajib

الوَاجِبُ لاَ يُتْرَكُ إِلاَّ لِوَاجِبٍ

“Perkara wajib tidaklah ditinggalkan kecuali karena perkara wajib.”

            Wajib menurut bahasa adalah pasti atau tepat sedangkan menurut istilah Ushul Fiqih adalah sesuatu yang diperintah oleh syari supaya dikerjakan oleh mukalaf secara pasti dan perintah itu disertai dengan petunjuk yang menunjukkan bahwa perintah itu menjadi wajib. Petunjuk itu bisa berupa kalimat perintah itu sendiri atau kalimat yang terdapat petunjuk harus melakukannya.

Contoh petunjuk yang berupa kalmat perintah itu sendiri :

وَأَقِيمُواْ الصَّلاَةَ وَآتُواْ الزَّكَاةَ … (البقرة (2) : 43)

Artinya : Dan tegakkanlan shalat serta tunaikanlah zakat (QS. Al-Baqarah (2) : 43).

Contoh kalimat yang terdapat petunjuk harus melakukannya :

كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ … (البقرة (2) : 183)

Artinya : Diwajibkan atas kamu sekalian berpuasa … (QS. Al-Baqarah (2) : 183).

Hukum wajib disini harus dilakukan. Siapa yang melakukannya akan mendapat pahala, sedangkan siapa yang meninggalkannya akan mendapatkan siksaan.

               Wajib tidak boleh ditinggalkan kecuali dalam perkara wajib . Kaedah ini dibawakan oleh Imam As-Suyuthi dalam kitabnya Al-Asybah wa An-Nazhair, kaedah no. 23, pada halaman 329.

 

 

 Haram

                        Haram adalah sebuah status hukum terhadap suatu aktivitas atau keadaan suatu benda (misalnya Makanan) orang yang melakukan tindakan haram ini akan mendapatkan konsekuensi berupa dosa.

Burhanuddin TR,Haram lawan dari halal. Al-Ashfahani mengatakan bahwa haram adalah sesuatu yang dilarang, baik oleh kekuasaan ilahi,  (Qs. Al-Qashas:12), manusia, atau larangan penguasa. Larangan ini baik dari aspek akal, syar’i, ataupun dari orang yang ditaati.

Menurut Qardhawi,Haram adalah sesuatu yang Allah swt. melarang untuk dilakukan dengan larangan yang tegas, setiap orang yang menentangnya akan berhadapan dengan siksaan Allah swt. di akhirat.

Dari paparan diatas dapat diambil kesimpulan bahwa Haram yaitu adalah segala sesuatu yang dilarang tegas oleh Allah swt. dan jika ada orang melakukannya akan mendapatkan dosa.

Dalam kaidah “ apa yang haram digunakan haram pula disimpan.” Ini sudah jelas bahwa apapun yang telah diharamkan tidak boleh disimpan apalagi di gunakan.

Kaidah yang berkaitan dengan kaidah tersebut adalah :

ما حرم فعله حرم طلب ه

Sesuatu yang haram untuk dikerjakan maka haram pula mencarinya.

 

Contoh kaidah:

Mengambil riba atau upah perbuatan jahat.

Mengambil upah dari tukang ramal risywah (suapan). Begitu pula dengan upah orang-orang yang meratapi kematian orang lain.

 

            Masalah – Masalah Yang Dikecualikan yaitu:

1.   Apabila seorang hamba melakukan hukuman had yaitu berdampak melukai seseorang dan hukumnya haram,kecuali jika itu adalah suatu hukuman untuk mnegakkan keadilan maka hukaman tersebut dikatakan wajib karena bertujuan untuk menegakkan keadilan. Tetapi, jika melukai seseorang hanya untuk membalaskan dendam maka perbuatan itu di hukumi haram

2.   Memakan, memakai,menyimpan barang haram adalah doa kecuali dalam keadaan yang terdesak maka hukumnya akan berubah menjadi wajib karena untuk menyelamatkan jiwa atau situasi yang buruk.

 

KAIDAH KESEPULUH (X)                                                                                     “APA YANG HARAM MENGAMBILNYA HARAM PULA MEMBERIKANNYA, BARANGSIAPA TERBURU-BURU MENCAPAI SESUATU MAKA DIA TERSISKA DENGAN TIDAK MEMEPEROLEH SESUATU ITU”

Apa Apa yang Haram mengambilnya haram pula memberikannya. Kaidah ini mirip dengan kaidah sebelumnya. Dua kegiatan yang dinilai memiliki kausalitas (sebab-akibat) yang terikat satu sama lain, maka hukumnya diparalelkan. Jika suatu akibat dari aktifitas kegiatan yang dinilai haram, maka aktifatas sebelumnya yang merupakan sebab munculnya keharaman, maka diharamkan pula. Ini sebagai konsekwensi logis untuk mewujudkan kemaslahatan yang lebih komprehensif dari sebuah pelarangan. Bahkan langkah ini dianggap cukup efektif bagi penerapan kebijakan dalam siyasah syariyyah.

Barang siapa terburu buru mencapai sesuatu sebelum waktunya maka dia tersiksa dengan tidak memperoleh sesuatu itu. Kaidah ini lebih bersifat sebagai peringatan agar semua orang tidak tergesa-gesa dalam melakukan sesuatu baik itu perbuatan maupun suatu tindakan, dalam rangka untuk mendapatkan haknya sebelum waktunya. Sebab hal itu dapat berakibat kegagalan, atau kita tidak akan mendapatkan apapun. Akan tetapi, sebagian ulama’ menyempurnakan susunan kaedah ini sehingga berbunyi: Artinya: “Barang siapa yang berusaha menyegerakan sesuatu yang belum waktunya, dan tidak untuk kemashlahatan terhadap kekalnya sesuatu itu, akan menerima akibat tidak akan mendapatkan sesuatu itu”.

Di antara sifat tercela yang dilarang oleh syara' adalah sikap tergesa-gesa. Al-Ragib mengatakan: Tergesa-gesa adalah meminta dan menuntut terwujudnya sesuatu sebelum waktu yang ditentukan. Dia adalah tuntutan hawa nafsu, oleh karena itulah dia termasuk sifat yang tercela di dalam berbagai ayat Al-Qur'an. Bahkan dikatakan: Tergesa-gesa dari setan.

Salah satu penyebab kita gagal melakukan sesuatu adalah kita terlalu cepat untuk bertindak tanpa memikirkannya dahulu strategi apa yang harus dibuat. Salah satu penyebab kita dimusuhi adalah kita terburu-buru dengan apa yang kita ucapkan hingga tanpa menjaga perasaan mereka, akhirnya mereka memusuhi kita. Terkadang tanpa disadari jika kita bertemu dengan hal yang sangat kita sukai pasti akan menjadi berambisi dalam melakukannya, padahal ambisi yang terlalu tinggi dan tidak dikontrol hanyalah menyebabkan kegagalan itu.

Firman Allah Ta'ala:

Maka Bersabarlah kamu seperti orang-orang yang mempunyai keteguhan hati dari rasul-rasul Telah bersabar dan janganlah kamu meminta disegerakan(azab) bagi mereka. pada hari mereka melihat azab yang diancamkan kepada mereka (merasa) seolah-olah tidak tinggal (di dunia) melainkan sesaat pada siang hari. (Inilah) suatu pelajaran yang cukup, Maka tidak dibinasakan melainkan kaum yang fasik”.

Jadi tenanglah dalam  melakukan hal apapun, selesaikan masalah  dengan tenang dan jangan panik, jangan gelisah, dan jangan terburu-buru. sebab jika kita melangkah dengan hati yang tenang, kita dapat berpikir jernih menemukan solusi ketimbang terburu-buru.

Dasar Kaidah

1.      Apa Apa yang Haram mengambilnya haram pula memberikannya

Kaidah ini merupakan kaidah umum dari kaidah fikih, dimana landasan hukumnya adalah firman Allah:

Artinya: Tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. dan bertakwalah kamu kepada Allah, Sesungguhnya Allah Amat berat siksa-Nya (Q.S Al-maidah : 2)

Kemudian hadis nabi yang berbunyi:

الحلال بين والحرام بين وبينهما أمور مشتبهات

Artinya: Yang halal itu jelas dan yang haram itu jelas, diantara keduanya ada hal-hal yang meragukannya.

2.      Barang siapa terburu buru mencapai sesuatu sebelum waktunya maka dia tersiksa dengan tidak memperoleh sesuatu itu.

Syaikh Abdurrohman as-Sa’di berkata, “Yang menjadi dasar kaidah ini, oleh karena manusia itu merupakan seorang hamba yang memiliki dan harus tunduk pada perintah Allah, dia tidak memiliki kehendak secara mutlak. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

“Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabia Allah dan RasulNya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka..” (QS. Al-Ahzab: 36).

 

KAIDAH KESEBLAS (XI)

“MASALAH YANG MASIH DIPERSELISIHKAN TIDAK DIINGKARI SEDANGKAN, YANG DIINGKARI ADALAH YANG TELAH DISEPAKATI. DAN YANG KUAT DAPAT MASUK PADA YANG LEMAH, TIDAK SEBALIKNYA”

 

1. Masalah yang diperselisihkan tidak dapat diingkari, sedangkan yang diingkari yang sudah disepakati, kaidah ushuln fiqih:

لَا يُنْكَرُ الْمُخْتَلَفُ فِيْهِ، وَإِنَّمَا يُنْكَرُ الْمُجْمَعُ عَلَيْهِ

“Masalah yang masih diperselisihkan (keharamannya) tidak boleh    diingkari, tapi harus mengingkari masalah yang (keharamannya) telah disepakati”.

Kaidah fiqih di atas mengakomodir semua perbedaan pendapat yang terjadi di kalangan ulama dalam bingkai kesepakatan bahwa “tidak boleh menolak masalah yang keharamannya masih diperdebatkan, penolakan hanya berlaku pada masalah yang keharamannya telah disepakati.” Contohnya berjudi, minum khamr, zina, mencuri, meninggalkan shalat dan lain sebagainya. Semua itu adalah masalah yang keharamannya telah disepakat.

Syekh Dr. Muhammad Mustafa al-Zuhaili dalam bukunya, al-Qawa’id al-Fiqhiyyah wa Tathbiqatuha fî al-Madzahib al-Arba’ah menjelaskan tentang kaidah di atas: “Tidak diharuskan menolak masalah-masalah yang masih diperselisihkan keharamannya, karena masih berdasarkan pada dalil. Penolakan harus diterapkan pada perbuatan yang menyalahi kesepakatan ulama (atas keharamannya), karena tidak berdasarkan dalil”.

Dengan kata lain, kaidah fiqih “la yunkar al-mukhtalaf” merupakan atap yang mengayomi berbagai perbedaan pendapat dalam hukum Islam. Selama pendapat yang dikeluarkan memiliki dasar argumentasi yang jelas (dalil dan nalar fiqih), kita tidak boleh mengatakannya sebagai sesuatu yang haram, bid’ah dan musyrik. Lagipula perbedaan pendapat para ulama itu rahmat yang besar.

Perbedaan pendapat adalah rahmat. Salah satu nikmat yang diberikan Allah kepada kita. Karena itu, kita harus siap dengan berbagai perbedaan pendapat para ulama dalam hukum fiqih.

2. Yang kuat dapat masuk kepada yang lemah, tidak sebaliknya

Kata "kuat" diambil dari khasanah bahasa Arab. Kata ini terambil dari akar kata yang terdiri dari huruf-huruf qaf, dan ya’ yang maknanya, antara lain, adalah "keras, kuat", sebagai antonym (lawan) kata dari "lemah". Kekuatan dimaksud dapat berwujud secara fisik atau kalbu bagi manusia. Dapat juga berwujud dari luar, misalnya bantuan pihak lain yang melahirkan kekuatan atau bahkan bantuan Allah SWT. Kekuatan batin menjadikan seseorang tegar menghadapi ancaman serta penuh percaya diri.

Nabi SAW., bersabda: “Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allah daripada mukmin yang lemah, namun keduanya baik. Bersungguh-gungguh meraih apa yang bermanfaat untukmu dan mohonlah bantuan kepada Allah, jangan melemah. Jika engkau ditimpa sesuatu, maka jangan berkata: ‘Seandainya aku melakukan ini dan itu’, tapi ucapkanlah:’Ini telah ditakdirkan Allah apa yang Dia kehendaki dilakukan, (jangan berkata seandainya) karena seandainya membuka pintu (masuk) setan". (HR Muslim).

Kekuatan yang dimaksud oleh Nabi SAW., di atas dapat beragam. Antara lain kekuatan ekonomi, kekuatan pemikiran, ilmu, dan kepribadian yang melahirkan rasa percaya diri walaupun seseorang berdiri sendirian.

Sedangkan Yang lemah biasanya menerima apa adanya dan/atau mencari pembenaran atas sesuatu yang tidak wajar. Itulah pintu masuk setan atau nafsu yang selalu memperindah keburukan atau mencarikan alasan pembenaran bagi yang lemah. Kekuatan jiwa melahirkan tekad untuk mengambil langkah yang tepat dan cara-cara yang tepat, serta waktu yang tepat guna mencapai maksud yang tepat. Penangguhan mengambil tindakan karena situasi yang belum tepat, walau terkesan “kelemahan”, pada hakikatnya adalah kekuatan.

Contoh penerapan kaidah ini yaitu: diambil dari kitab “As-sulam” karya “Abdul Hamid Hakim (Pdang panjang, Sumatera barat)” Ia mengatakan bahwa “Walihadza yaazyju idhkhalal hajji ‘alal umrati, laal umrati ‘alaal hajji” yang memiliki arti pemahaman orang yang mengerjakan ibadah haji (berhaji) boleh melakukan ibadah umrah sedangkan orang ysng sedang mengerjakn ibadah umrah tidak mungkin ia mengerjakan ibadah haji sekaligus.

 

 

KAIDAH KEDUABELAS (XII)

“YANG MUDAH TIDAK GUGUR KARENA YANG SUKAR“

 

 

A.  KAIDAH KE-37

يُغْتَفَرُ فِى الْوَسَائِلِ مَالاَيُغْتَفَرُ فىِ الْمَقَاصِدِ

”Sesuatu yang ketika menjadi tujuan tidak diampuni, diampuni waktu menjadi lantaran”.

Contoh : Melukai anggota badan sebagai tujuan, tidak boleh. Tetapi operasi yang dilakukan oleh dokter tidak dilarang, sebab operasi hanyalah lantaran untuk menyembuhkan si sakit.


B.  KAIDAH KE-38

اَلْمَيْسُوْرُ لاَيَسْقُطُ بِالْمَعْسُوْرِ

”Yang mudah tidak gugur karena yang sukar”.
Kaidah ini di ambil dari hadist yang berbunyi :

إِذَا أَمَرْتُكُمْ بِأَمْرٍ فَأْتُوْا مِنْهُ مَااسْتَطَعْتُمْ

Artinya : ”Manakala kuperintahkan kalian dengan suatu perkara, maka laksanakanlah sebisa kalian”.

Contoh: “Orang yang hanya memiliki satu tangan, dalam wudlu ia harus membasuh apa adanya,    yaitu satu yangan yang dimilikinya itu”.

Pengecualian: Dari kaidah ini masalah yang dikecualikan juga tidak sedikit, antara lain:

a. Seseorang berkewajiban membayar kafarat (denda) dengan memerdekakan budak. Jika ia hanya memiliki setengah, maka tidak boleh memerdekakan setengah yang dimilikinya itu, melainkan hanya menggantinya saja dengan puasa dua bulan berturut-turut.

b. Orang yang hanya kuat berpuasa setengah hari karena sakit umpamanya, ia tidak diwajibkan imsak setengah hari yang terakhir.

 

C.  KAIDAH KE-39

مَالاَيَقْبَلُ التَبْعِيْضَ فَاخْتِيَارُ بَعْضِهِ كَاخْتِيَارِ كُلِهِ وَإِسْقَاطُ بَعْضِهِ كَإِسْقَاطِ كُلِهِ

”Sesuatu yang tidak bisa di bagi itu, memilih sebagiannya sama dengan memilih seluruhnya dan menggugurkan sebagiannya berarti menggugurkan seluruhnya”.

Contoh: “Seseorang membeli baju dan diketahui lengannya sedikit robek. Dia tidak bisa meminta ganti hanya lengannya saja, sebab baju tidak dapat dibagi-bagi, karenanya menggugurkan sebagian berarti menggugurkan seluruhnya”.

D.  KAIDAH KE-40

إِذَااجْتَمَعَ السَبَبُ أَوِالْغُرُوْرُ وَالْمُبَاشَرَةُ قُدِمَتِ الْمُبَاشَرَةُ

”Manakala terkumpul sebab atau tipuan dengan pelaksanaan, maka pelaksanaan

didahulukan”.      

Contoh: “A tahu bahwa mobilnya tidak normal, tetapi ketika B hendak memakai mobil itu, A mengatakan bahwa semuanya baik. Kemudian ternyata berjalan beberapa saat, remnya blong dan menabrak orang. Yang terkena tuntutan adalah B, meskipun dia menabrak itu, karena ditipu oleh A”.

Pengecualian: “A menyewakan sebuah truk beserta sopirnya untuk memuat garam. Dalam perjanjian, telah disepakai bahwa A tidak boleh mengisi truk dengan muatan lebih dari empat ton. tetapi kemudian, oleh A truk diisi muatan seberat enam ton dan surat angkutan yang diberikannya kepada sopir, tertulis empat ton. Tiba-tiba ditengah perjalanan per truk putus. Ketika diperiksa ketahuanlah bahwa muatan bukan hanya empat ton melainkan enam ton. Dalam hal ini yang dipersalahkan dan dituntut mengganti adalah A (penyewa truk), dan bukannya sopir”. 

 

PENUTUP:

Demikianlah (resume) ini saya buat untuk memenuhi tugas matakuliah USHUL FIQIH II. Mohon maaf jika penulisan ini jauh dari kata sempurna.

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh!!.

 

 

 http://www.makalah.ga/2021/02/resume-ushul-fiqih.html

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

No comments:

Post a Comment