Sunday, February 7, 2021

“TAKHRIJ AL-HADIST: PENGERTIAN, PENGENALAN MUKORIJ (PERAWI HADIST) DAN KARYANYA (KUTUBUSSITTAH, AL-MUWATTHI DAN MUSNAD IMAM AHMAD)”

 

MAKALAH

 

“TAKHRIJ AL-HADIST: PENGERTIAN, PENGENALAN MUKORIJ (PERAWI HADIST) DAN KARYANYA (KUTUBUSSITTAH, AL-MUWATTHI DAN MUSNAD IMAM AHMAD)”

Dosen Pengampu: sahroni,M.Pd.I

 


JURUSAN: PENDIDIKAN AGAMA ISLAM

Disusun oleh:

KELOMPOK: 15

1.      M. MUKHTAR LUTHFI

2.      SAMSUL MU’ARIF

3.      WALIYADIN

 

 

YAYASAN PENDIDIKAN DAN AMAL SOSIAL AN-NADWAH

SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM AN-NADWAH KUALA TUNGKAL

TAHUN AKADEMIK 2019



KATA PENGANTAR

Dengan menyebut nama Allah SWT yang Maha Pengasih lagi Maha Panyayang, Kami panjatkan puja dan puji syukur atas kehadirat-Nya, yang telah melimpahkan rahmat, hidayah, dan inayah-Nya kepada kami, sehingga kami dapat menyelesaikan makalah tentang  takhrij al-hadist: pengertian, pengenalan, mukorij (perawi hadist) dan karyanya (kutubussittah, al-muwatthi dan musnad imam ahmad) dalam mata kuliah ulumul hadist

Makalah ini telah kami susun dengan maksimal dan mendapatkan bantuan dari berbagai pihak sehingga dapat memperlancar pembuatan makalah ini. Untuk itu kami menyampaikan banyak terima kasih kepada semua pihak yang telah berkontribusi dalam pembuatan makalah ini. Terlepas dari semua itu, Kami menyadari sepenuhnya bahwa masih ada kekurangan baik dari segi susunan kalimat maupun tata bahasanya. Oleh karena itu dengan tangan terbuka kami menerima segala saran dan kritik dari pembaca agar kami dapat memperbaiki makalah ilmiah ini. Akhir kata kami berharap semoga makalah  ini dapat memberikan manfaat maupun inpirasi terhadap pembaca.

 

BAB I

PENDAHULUAN

A.     Latar belakang

Didalam tradisi agama islam, hadits Nabi menduduki posisi kedua dalam hirarki sumber ajaran-ajara islam, setelah alqur’an. Sebagaimana yang kita ketahui al-Qur’an adalah kalam allah swt yang diturunkan kepada nabi Muhammad saw, melalui perantaraan malaikat jibril as dengan bahasa arab. Sebagai sebuah perkataan, tentu didalamnya terdapat ayat-ayat yang jelas dan ada jiga yang tidak jelas yang masih membutuhkan penafsiran dan penjelasan. Posisi dan tugas nabi Muhammad saw dalam konteks sebagai penafsir awal atas ketidakjelasan atau keumuman ayat-ayat al-Qur’an ini. Penjelasan dan penafsiran tersebut kemudian disebut dengan hadits atau sunnah.

Dan didalam makalah ini akan kami uraikan pembahasan tentang judul yang tertera diatas tersebut.

BAB II

PERMASALAHAN

A.    Rumusan masalah

1.      Apa dinamika takhrij al-hadist?

2.      Bagaimana konsep dan urgensi takhrij al-hadist?

3.      Mengapa diperlukan takhrij al-hadist?

 

B.     Tujuan

1.      Untuk mengetahui takhrij al-hadist, pengertian, pengenalan, dan karya kutubussittah

2.      Untuk mengetahui konsep dan urgensi pada takhrij al-hadist

3.      Untuk mengetahui kenapa diperlukan takhrij al-hadist.

 

BAB III

PEMBAHASAN

A.     Takhrij al-hadits

 

1.      Pengertian takhrij al-hadist

Secara etimologi kata takhrij berasal dari kata kharraja,yukharriju, yang mempunyai beberapa arti: (1) al-istinbath (mengeluarkan): (2) at-tadrib (melatih atau membiasakan): (3) al-tawjih (memperhadapkan). Menurut Dr. Mahmud Thahhan kata takhrij menurut bahasa ialah “berkumpulnya dua perkara yang berlawanan dalam satu persoalan.

Menurut istilah, kata takhrij mempunyai beberapa pengertian, yaitu:

1.    Mengemukakan hadist kepada orang banyak dengan menyebutkan periwayatnya dalam rangkain sanad yang telah menyampaikan hadist itu.

2.    Ulama hadist mengeluarkan berbagi hadist yang telah dikemukakan oleh para guru hadist atau berbagai kitab atau lainnya, yang susunannya dikemukakan berdasarkan riwayatnya sendiri, atau para gurunya atau temannya atau orang lain, yang menerangkan siapa periwayatnya dari para penyusun kitab atau karya tulis yang dijafikan sumber pengambilan.

3.     Menunjukan asal-usul hadist dan mengemukakan sumbar pengambilannya dari berbagai kitab hadist yang di susun oleh mukharrij-nya.

4.    Mengemukakan hadist berdasarkan sumber pengambilannya yang didlamnya disertakan metode periwayatan dan sanadnya masing-masing dengan menjelaskan keadaan  perawi dan kualitas hadistnya.

5.    Menunjukan letak asal hadist pada sumber aslinya, yang didalamnya dikemukakan hadist itu secara lengkap dengan sanadnya masing-masing.

                        Berkenaan dengan definisi tersebut diatas, dapat dijelaskan pengertian dari istilah takhrij masing-masing. Pengertian dari butir pertama merupakan satu kegiatan yang telah dilakukan para periwayat yang telah menghimpun hadist kedalam kitab yang mereka susun. Misalnya Imam Bukhari dengan kitab shahihnya, Imam Muslim dengan kitab shahihnya dan Abu Daud dengan sunan-nya.

                        Pengertian takhrij pada butir kedua sudah dilakukan oleh ulama hadist, misalnya Imam al-Bihaqi yang telah banyak mengambil hadist dari al-sunan yang disusun oleh abu al-Hasan al-Bashri al-Saffar, kemudian al-Baihaqi mengemukakan sanadny sendiri.

                        Pengertian takhrij pada butir ketiga banyak dijumpai pada kitab himpunan hadist, misalnya kitab bulughul maram karya Ibn Hajar al-Asqalani. Demikian pula dalam pengutipan hadist pada karya ilmiah, seharusnya diikuti pengertian takhrij pada butir ketiga tersebut.

                        Pengertian istilah takhrij pada butir keempat, biasanya ulama hadist menggunakannya untuk menjelaskan berbagai hadist  yang termuat dalam kitab tertentu, misalnya. Kitab Ihya’’Ulumuddin yang disusun oleh imam al-Ghazali (w. 505 H/1111 M). Dalam penjelasannya dikemukakan sumber pengambilan tiap-tiap hadist san kualitasnya masing-masing.

                        Pengertian istilah takhrij pada butir kelima ialah penelusuran atau pencarian hadist dalam berbagai kitab sebagai sumber asli berbagai hadist yang bersangkutan. Di dalamnya dikemukakan secara lengkap matan dan sanad hadist yang bersangkutan.

 

 

B.         Pengenalan mukorij al-hadist (perawi hadist)

                        Rawi menurut bahasa berasal dari kata riwayah yang merupakan bentuk mashdar dari kata kerja rawa-yarwi, yang berarti “memindahkan atau meriwayatkan”.  

                        Secara definisi, riwayah adalah kegiatan penerimaan atau penyampain hadist, serta penyandaran hadist kepada rangkain periwayatannya dalam bentuk-bentuk tertentu.

                        Salah satu faktor yang dpat mempengaruhi diterimanya suatu hadist ialah kualitas soerang rawi. tinggi rendahnya sifat adil dan dhabith para perawi menyebabkan kuat-lemahnya martabat suatu hadist. Perbedaan cara perawi menerima hadist itu dari guru mereka masing-masing mengakibatkan munculnya perbedaan lafaz-lafaz yang dipakai dalam periwyatan hadist. Karena perbedaan lafaz yang dipakai dalam penyampain hadist menyebabkan perbedaan nilai (kualitas) suatu hadist.

      Sehubungan dengan itu, penelitian dibidang rawi sangat penting dalam  upaya menentukan kualitas suatu hadist, karena para perawi harus mendapat sorotan yang tajam sehingga lahirlah sebuah cabang ilmu hadist yang terkenal, yaitu ilmu jarh wal al-ta’dil. Untuk melihat sejauh mana kualitas seorang perawi dapat dilihat melalui jarh dan ta’dil.

                        Ada beberapa persyaratan tertentu bagi seorang perawi dalam upaya meriwayatkan hadist, yaitu diantaranya:

1.      Baligh, artinya cukup umur ketika ia meriwayatkan hadist, meskipun ia masih kecil waktu penerimaan hadist itu.

2.      Muslim, yaitu beragama islam waktu menyampaikan hadist.

3.      ‘adalah, yaitu seorang muslim baligh dan berakal yang tidak mengerjakan dosa besar maupun dosa kecil.

4.      Dhabith, artinya tepat menangkap apa yang didengarnya, dan dihafalnya dengan baik, sehingga ketika dibutuhkan, ia dapat mengeluarkan atau menyebutkannya kembali.

5.      Tidak syadz, artinya hadist yang diriwayatkan tidak berlawanan dengan hadist yang lebih kuat atau dengan al-qur’an.

                        Dari syarat-syarat tersebut diatas ada dua hal yang mendepat penekanan lebih yaitu keadilan dan kedhabithan perawi. Untuk mengetahui keadilan seorang perawi, harus melihat pada tiga hal berikut:

1.      Popularitas dan keutamaan perawi dikalanagn ulama hadist.

2.      Penilain kritikus periwayat hadist.

3.      Penerapan kaidah jarh wa al-ta’dil.

                        Sedangkan tentang ke-dhabithan hadist didasarkan pada:

1.      Kesaksian ulama hadist.

2.      Kesesuain urain riwayatnya dengan riwayat yang disampaikan oleh perawi yang telah dikenal ke-dhabitan-nya.

3.        Sekiranya pernah terjadi kekeliruan, maka kekeliruan yang dilakukan perawi itu tidaklah sering.

                        Sedangkan kualitas rawi terbagi kedalam Sembilan tingkatan yaitu:

1.        Perawi yang mencapai derajat yang paling tinggi baik mengenai keadilan maupun mengenai kedhabitannya.

2.        Perawi yang mencapai derajat keadilan yang paling tinggi dan derajat kedhabitan yang menengah.

3.        Perawi yang mencapai derajat keadilan yang paling tinggi dan derajat kedhabitan yang paling rendah.

4.        Perawi yang derajat keadilan yang menengah  dan derajat kedhabitan yang paling tinggi.

5.        Perawi yang mencapai derajat menengah dalam keduanya.

6.        Perawi yang mencapai derajat keadilan yang menengah dan derajat kedhabitan yang paling rendah.

7.    Perawi yang mencapai derajat keadilan yang paling rendah dan derajat kedabitan yang paling tinggi.

8.    Perawi yang mencapai derajat keadilan yang paling rendah dan derajat kedhabitan yang paling menengah.

9.    Perawi yang mencapai derajat keadilan yang paling rendah dalam hal keduanya.

                        Klasifikasi tersebut menunjukan bahwa kualitas perawi merupakan faktor yang sangat berpengaruh dalam menetapkan kualitas suatu hadits.

                        Periwayatan hadits tidaklah sama satu dengan yang lainnya. Sebuah hadits kadang-kadang diriwayatkan oleh dua, tiga, empat, lima atau lebih dari itu, bahkan boleh jadi ada hadits yang hanya diriwayatkan oleh satu perawi saja. Sehubungan dengan itu, muncul istilah dalam periwayatan hadits, antara lain sbb:

v  Akhrajahu al-Bukhari wa Muslim: hadist tersebut diriwayatkan oleh imam bukhari dan imam muslim.

v  Akhrajahu as-syaikhani: hadits tersebut diriwayatkan dan dikeluarkan oleh al-Bukhari dan Muslim.

v  Akhrajahu ats-tsalatsah: hadits tersebut diriwayatkan oleh tiga perawi (Abu Dawud, al-Turmudzi, dan an-Nasa’i). ketiga perawi tersebuat adalah penyusun kitab al-sunan.

v  Akhrajahu al-arba’ah: hadits tersebut diriwayatkan (Abu Dawud, al-Turmudzi, an-Nasa’i dan Ibn Majah). Keempat perawi ini disebut juga dengan ashhab al-sunan.

v  Akharajahul al-khamsah: hadits yang diriwayatkan (Abu Dawud, al-Turmudzi, an-Nasa’i, Ibn Majah, dan Ahmad).

v  Akhrajahul al-sittah: hadits yang diriwayatkan (al-Bukhari, Muslim, Abu Dawud, al-Turmudzi, an-Nasa’i, dan Ibn Majah).

v  Akhrajahu al-sab’ah: hadits yang diriwayatkan ( al-Bukhari, Muslim, Abu Dawud, al-Turmudzi, an-Nasa’i, Ibn Majah dan Ahmad.

v  Akhrajahul al-jama’ah: hadits yang diriwayatkan oleh sejumlah ahli hadits.

                        Dalam penggunaan istilah periwayatan, di antara ulama ada juga yang mempergunakan istilah rawa-hu misalnya:

v  Rawa-hu al-Syaikhan : di riwayatkan oleh dua orang syekh, (al-Bukhari dan Muslim).

v  Rawa-hu al-tsalatasah : diriwayatkan oleh tiga orang syekh, (Abu Dawud, al-Turmudzi, dan an-nasa’i).

v  Rawa-hu al-arba’ah : diriwayatkan oleh empat syekh, (Abu Dawud, al-Turmudzi, an-Nasa’i, dan Ibn Maajah).

v  Rawa-hu al-khamsah : diriwayatkan oleh lima syekh, (Abu Dawud, al-Turmudzi, an-Nasa’i, Ibn Majah, dan Ahmad).

v  Rawa-hu al sittah : diriwayatkan oleh enam syekh, ( al-Bukhari, Muslim, Abu Dawud, al-Turmudzi, an-nasa’i, dan Ibn Majah).

v  Rawa-hu al-sab’ah : diriwayatkan oleh tujuh syekh, (al-Bukhari, Muslim, Abu Dawud, al-Turmudzi, an-Nasa’i, Ibn Majah, dan Ahmad).

v  Rawa-hu al-jama’ah : diriwayatkan oleh sejumlah ahli hadits.

v  Mutaffaq ‘alaih : keshahihan hadits disepakati oleh al-Bukhari dan Muslim.

Apabila dihubungkan dengan kitab-kitabnya maka istilahnya antara lain sebagai berikut:

1.      Kutub al-Khamsah : lima kitab hadits yang disusun oleh lima ulama hadits yaitu, sunan Abu Dawud, sunan al-Turmudzi, sunan Ibn Majah, an-Nasa’i dan sunan Ahmad, dan seterusnya.

2.      Kutub al-Sittah : enam kitab hadits yang disusun oleh enam ulama hadits yaitu, Shahih al-Bukhari, Shahih Muslim, sunan Abu Dawud, sunan al-Turmudzi, sunan Ibn Majah, dan an-Nasa’i.

3.      Kutub al-Sab’ah : tujuh kitab hadits yang disusun oleh tujuh ulama hadits yaitu, kitab Shahih al-Bukhari, Shahih Muslim, sunan Abu Dawud, sunan al-Turmudzi, sunan Ibn Majah, an-Nasa’i, dan sunan Ahmad.

C.       Karyanya kutubussittah : al-Muwatthi dan musnad imam Ahmad

1.      Kitab al-Muwatthi

“Al-Muwatthi” adalah sebuah kitab karyanya imam Malik yang juga bergelar imam Dar al-Hijrah (w 179 H/795 M). Diriwayatkan berdasarkan penuturan imam malik sendiri bahwasanya “Suatu ketika aku mendemostrasikan kitabku dihadapan tujuh puluh para ulama fiqih Madinah dan semuanya menyetujuiku  (watha’ani), maka saya pun menamainya dengan al-Muwatthi”. Riwayat ini member penegasan pula kualitas dan otoritas kitab ini. Maka tidak mengherankan kitab ini selalu mendapatkan prhatian dikalangan pecinta hadist (thalib al-hadits).

Tema pokok pembahsan didalam kitab al-muwatthi lebih didominasi oleh persoalan fiqih. Bahasan fiqih dalam kitab al-muwatthi hamper mencakup tiga perempat dari keseluruhan isi kitab. Sementara seperempat lainnya digunakan untuk membahas adab, etika dan semacamnya.

Kitab al-Muwatthi menghimpun hadits-hadits nabi, pendapat sahabat, qaul tabi’in, ijma’ ahlul madinah dan pendapat ijtihad imam malik sendiri. Mengenai jumlah riwayat didalam kitab al-muwatthi ada perbedaan pendapat dikalangan ulama. Namun, menurut syeikh Muhammad bin Turki didalam kitabnya Manahij al-Muhadditsin, al-Muwatthai mengandung:

1.      Hadits musnad sebanyak 500 hadits dengan kualitas shahih.

2.      Hadits mursal sebanyak 222 hadits.

3.      Hadits munqatti’ dengan jumlah yang sangat sedikit.

4.      Hadits balagat (hadits yang isnad awalnya dibuang dan didahuli dengan kata-kata balagani), jumlahnya sebanyak 61 hadits.

5.      Hadits mubham (hadits yang tidak jelas naratornya, imam Malik hanya menybutnya dengan haddatsani siqqah atau haddatsani rajulun.

6.      Hadits mauquf sebanyak 613 hadits, dimana sebagiannya berstatus marfu’ bil al-hukum.

7.      Pendapat para tabi’in sebanyak 235 hadits.

8.      Pendapat imam Malik sendiri.

Salah satu contoh  hadits yang ada diadalam kitab al-muwatthi:

حَدَّثَنِي يَحْيَ عَنْ مَاِلك عَن زَيْدِ بِن أَسْلَمْ أَنَّ عُمَر بن الْخَطَّابِ : كَانَ يَقُوْلُ اَللَّهُمَّ إنِّي أّسْأَلُكَ شَهَادَةً فِي سَبِيْلِكَ وَوَفَاًةً بِبَلَدِ رَسُوْلِكَ. 

Artinya : telah menceritakan kepadaku Yahya dari Malik dari Zaid bin Aslam        bahwa Umar bin Khattab pernah berdo’a “Ya Allah, saya meminta kepada-Mu mati syahid dijalan-Mu, dan wafat di negri Rasul-Mu”.

2.      Musnad imam Ahmad

Musnad imam Ahmad atau dikenali dengan al-musnad adalah sebuah kitab hadits nabi saw yang terkenal dan terluas,  dan kedudukannya menempati posisi yang diutamakan dikalangan ahlussunnah wal jama’ah sebagai rujukan dikalangan mereka. Selain itu, musnad imam Ahmad juga dikenal dikalangan para ahli ilmu hadits, yang meletakan pada posisi ketiga setelah shahihain dan sunnan yang empat. Nama musnad imam Ahmad didasarkan/dinasabkan dari nama Abu Abdullah Ahmad bin Muhammad bin Hanbal asy-Syaibani adz-Dzuhli (164-241 H/780-855 M). Perhitungan ahli-ahli hadits menyebutkan ada kurang lebih 40 ribu hadits dengan rincian sebanyak 10 ribunya diulang-ulang, ditulis berurutan sesuai nama para sahabat nabi Muhammad saw yang meriwayatkan haditsnya,   yang dalam pengurutannya dijadikan tiap periwayatan sahabat memiliki satu tempat, dan jumlah sahabat yang meriwayatkan disini terhitung sebanyak 904 orang sahabat. Kitab al-Musnad terbagi kepada 18 jilid (bagian), jilid pertama ialah musnad yang disusun oleh sepuluh sahabat  yang dijanjikan masuk surga, dan bagian yang terakhinya ialah musnad yang disusun sahabat nabi yang perempuan (shahabiyah) dan disana, banyaklah hadits shahih yang tidak didapati pada shahihain (shahih Bukhari dan shahih Muslim).

Imam Ahmad sendiri tidaklah ingin membikin karangan-karangan lain karena tidak ingin memberatkan umat dan cukuplah qur’an dan sunnah yang menjadi panduan hidup mereka (orang-orang muslim). Karena itulah, hadits yang dirawikan daripada syeikh/guru-gurunya, haditsnya pun dipilih dengan sangat teliti supaya umat mau merujuk kepada hujjah yang berasal hadits yang diriwayatkannya. Oleh karena itu imam Ahmad berkata: “aku karang kitab ini supaya kalau umat-umat berselisih soal hadits rasul, mereka bisa merujuk kepada kitab ini”. Ulama berikhtilaf tentang keshahihan seluruh isi kitab al-Musnad ini:

1.      Menurut Abu Musa al-Madani, seluruh kitab ini berisi tentang hujjah.

2.      Menurut Ibnu Jauzi, al-Iraqi’ dan Ibnu Katsir, mengatakan didalam kiatb ini berisi tentang hadits shahih, da’if (lemah) dan maudhu’ (palsu).

3.      Menurut Ibn Taimiyah, Adz-Dzahabi, Ibn Hajar al-Asqalani, dan As-Syuthi, mengatakan hadits yang ada didalam kitab ini berisi tentang keshahihan, lemah , dan hadits yang mendekati hadits hasan.

 

Abdullah bin Ahmad bin Hambal memberikan tambahan-tambahan hadits pada kitab ini, yang lebih dikenal dengan nama Zawayid Abdullah. Selain itu, ada juga Abu Bakar al-Qathi’i yang memberikan zawayid yang tidak dicatatkan oleh imam Ahmad dan anaknya Abdullah.

Imam Ahmad selesai mengarang kitab ini antara tahun 227/228 H. karena Adz-Dzahabi menuliskan riwayat bahwa anaknya Abdullah bin Ahmad bin Hambal mengatkan bahwa kitab ini diajarkan diantara 2 tahun. Imam Ahmad melakukan rihlah yang panjang untuk mengumpulkan kepingan-kepingan hadits yang didengar dari para syeikhnya dari mulai Baghdad, Syam, Yaman, sampai Hijaz dan mengumpulkan ada 700 ribu hadits sebagaimana yang dituturkan oleh imam Ahmad sendiri, mencakup hadits marfu’, mauquf, dan maqthu’, dan lainnya. Imam Ahmad bin Hambal menulis hadits-hadits tersebut didalam lembaran kertas, sebelum imam Ahmad wafat, ia mewasiyatkan kepada anak-anak dan penghuni rumahnya untuk merapihkan dan meringkaskan kitabnya dan menyusunnya sehingga sebagai mana adanya sekarang.


BAB IV

PENUTUP

A.     Kesimpulan

Berdasarkan makalah yang kami tulis diatas dapat diambil kesimpulan bahwa, sangatlah penting bagi kita untuk mengetahui akan adanya takhrij al-hadits, mukorij (perawi hadits) dan kitabussittah karyanya: al-Muwatthi dan musnad imam Ahmad. Sebagai perbendaharaan pengetahuan dan lain sebagainya.

B.     Saran

Dalam membuat Makalah ini mungkin masih terdapat kesalahan– kesalahan, sehingga kami mengaharapkan kritik dari pembaca agar makalah yang kami buat ini menjadi lebih baik dan lebih sempurna.

 

DAFTAR PUSTAKA

M  Noor Sulaiman Pettalongi, 2009, Antologi Ilmu Hadist, Jakarta; Gaung Persada Press.

Mahmud al-Thahhan, Ushul al-Takhrij wa Dirasah al-Asnid, Daral Qur’an al-Karim: Beirut, 1974, hlm 9.

Mahmud al-Thahhan, Mushthalah al-Hadits, Daral Qur’an al-Karim, Beirut, 1399 H/1979 M., hlm, 16.

Al-Suyuthi, tadrib al rawi, hlm 225.

Ibn Hajar al-‘Asqalani, subul al-salam, hlm 10.

Ibn Hambal, Abu ‘Abd Allah Ahmad, Musnad Ahmad bin Hambal, Beirut: al-Maktabah al-Islami, 1398 H/1978M.

 

MAKALAH 

TAKHRIJID ALHADITS

https://kadul5647.blogspot.com/2021/02/takhrij-al-hadist-pengertian-pengenalan.html


No comments:

Post a Comment